Digital Map PETA

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) membuat kesalahan besar di TB - Menghilangkan TB dari daftar prioritas global?






Gambar : pasien sedang mengupas bungkus obat TB Kebal Obat./Foto : dok. PETA






Artikel ini adalah opini yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, link asli dapat dibuka diakhir artikel.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) - Lembaga Kesehatan paling berpengaruh di Dunia - pertama kalinya menerbitkan 'Daftar Prioritas Global bakteri yang Kebal terhadap Obat' . Ini adalah sebuah katalog yang berisi daftar 12 bakteri yang WHO sebut-sebut "menimbulkan ancaman terbesar bagi kesehatan manusia" - dan mana yang paling membutuhkan antibiotik baru.

Lebih dari sebuah pedoman untuk akademisi, dokumen adalah alat advokasi yang dirancang khusus untuk membantu 'para pengambil keputusan' memprioritaskan investasi dalam penelitian dan pengembangan farmasi. Sementara daftar prioritas ini disambut, ada sebuah cacat yang sangat besar yang harus diperbaiki secepatnya. Para ahli menyusun daftar gagal termasuk Mycobacterium Tuberculosis (TB), bakteri yang menyebabkan tuberkulosis (TB), meskipun TB membunuh lebih banyak orang daripada penyakit menular lainnya dan telah mengembangkan resistensi yang luas seperti antibiotik yang bahkan WHO sendiri melabeli dengan label "urgent"


Alasan WHO untuk tidak memasukkan TB dari pertimbangan adalah karena "itu sudah menjadi prioritas global yang dimana sudah sangat dibutuhkan pengobatan dengan inovasi baru". Dengan kata lain, TB tidak dipertimbangkan untuk dimasukkan dalam daftar prioritas global karena sudah merupakan prioritas global (?). Penjelasan ini sangat bertentangan.

Tuberkulosis adalah epidemi global. WHO memperkirakan bahwa 10,4 juta orang terjangkit penyakit ini dari udara pada tahun 2015 (tahun terakhir dengan data statistik lengkap) dan 580.000 dari mereka kebal terhadap obat yang ada. Hanya 1 dari 5 orang dengan TB yang kebal terhadap obat yang didiagnosis dan diobati. Sisanya tetap sakit dan menularkan selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, menularkan penyakit ini kepada orang lain sebelum mereka meninggal.


TB yang kebal terhadap obat (TB-RO/MDR) itu sangat sulit untuk diobati. Orang dengan TB-RO menghabiskan banyak (baca: sangat mahal) antibiotik untuk setidaknya sembilan bulan dan selama dua tahun. Di antara mereka yang berhasil mendapatkan akses terhadap pengobatan, hanya sekitar setengah yang bertahan hidup. Mereka yang masih hidup umumnya mengalami efek berbahaya dari obat, seperti kerusakan organ dan gangguan pendengaran permanen.

Hampir semua antibiotik digunakan untuk mengobati TB telah diciptakan sebelum astronot berjalan di bulan. Hanya dua obat TB baru telah disetujui sejak masa itu - Bedaquiline pada tahun 2012 dan Delamanid pada tahun 2014 - dan akses mereka hanya dibatasi untuk sejumlah kecil pasien. Sementara itu, dukungan untuk penelitian antibiotik baru untuk TB sangat kecil dan semakin berkurang. Dana penelitian saat ini kurang dari sepertiga dari apa yang dibutuhkan untuk membawa pengobatan baru ke pasar.

Itu sebabnya mengecualikan TB dari daftar prioritas global adalah keputusan yang terlalu mendadak untuk TB. Dan keputusan itu harusnya tidak datang disaat yang kurang tepat seperti ini.

Kita siap untuk melihat apa yang mungkin menjadi salah satu terobosan paling penting dalam memerangi TB dalam beberapa dekade ini: pertemuan pertama kalinya kepala negara secara khusus untuk TB. Pelepasan daftar prioritas global, yang ternyata, bertepatan dengan pertemuan para pejabat kesehatan dari 20 negara yang mewakili ekonomi terbesar di dunia. Pada bulan November 2017, sekretaris nasional dan menteri kesehatan dari seluruh dunia akan bertemu di Moskow pada pertemuan puncak yang difokuskan secara khusus pada perencanaan keputusan terkait TB. Dan tahun depan, presiden dari seluruh dunia dan perdana menteri akan bersidang, untuk pertama kalinya dalam sejarah, untuk bernegosiasi dan mengumumkan tindakan yang akan diambil untuk mengakhiri epidemi.


Melihat bahwa para pembuat kebijakan nasional yang bernegosiasi di KTT ini akan memiliki pengaruh besar pada penelitian dan pengembangan anggaran TB yang akan - pada saatnya nanti - berpengaruh pada pengiriman antibiotik baru yang sangat dibutuhkan untuk mengakhiri epidemi ini. 

Yang pasti, kita sangat membutuhkan antibiotik baru untuk mengobati TB, dan dimasukkan dalam daftar baru prioritas global WHO. Daftar prioritas ini adalah alat yang sangat penting untuk pedoman para pembuat kebijakan. Karena pedoman WHO begitu berpengaruh, menghilangkan TB dari daftar begitu saja dapat berpotensi buruk dan itu adalah sebuah kesalahan fatal.

Setelah menerbitkan daftar itu, Direktur Jenderal WHO - Margaret Chan mengeluarkan pernyataan yang mengatakan, "penelitian untuk mengatasi TB yang resistan terhadap obat  merupakan prioritas utama bagi WHO dan dunia."
Pesan ini terlihat baik, tapi mungkin akan dilupakan di masa depan oleh  para pembuat kebijakan sebagai referensi daftar prioritas global itu sendiri.


 Untungnya, WHO mengatakan bahwa daftar dapat berubah.


Daripada sewenang-wenang membatasi cakupan daftar, WHO harus mengevaluasi lebih luas patogen - Termasuk virus, jamur, dan mikroba lainnya - yang semakin resistan terhadap obat, dan merevisi daftar untuk menggambarkan gambaran yang lebih berbasis bukti dari prioritas penelitian kesehatan di masyarakat.

Dukungan dari masyarakat juga diperlukan untuk mendorong pemerintah untuk menyuarakan TB agar memasukkan TB dalam daftar prioritas global itu.

Disadur dan diterjemahkan oleh : Thorofi
Artikel asli : https://www.statnews.com/2017/03/13/tuberculosis-who-antibiotic-resistance/
 





Senin, 13 Maret 2017
Posted by Iko

Launching Logo Baru PETA

Jakarta - Sabtu, 12 September 2015 secara resmi Yayasan Pejuang Tangguh TB-RO Jakarta atau disingkat PETA, meluncurkan logo baru. Perubahan logo baru ini diharapkan menjadi titik baru untuk memulai lembaran baru menuju PETA yang lebih baik kedepannya. Diresmikan pertama kali pada 12 September 2015, setelah dilakukan beberapa revisi dan penataan ulang konsep dan pengambilan keputusan oleh semua anggota PETA. Berikut konsep dari logo baru PETA ini:

Logo Pejuang Tangguh TB-RO Jakarta merupakan bentuk dari logogram yang menggambarkan 3 orang yang sedang saling tos, sebagai simbol teamwork dan semangat persatuan, yang senada dengan PETA yang saling bekerja sama mendampingi dan mengedukasi para pasien TB-RO yang masih berobat.

Makna warna pada logo memiliki arti yang didasarkan pada semangat PETA dalam 3 warna sebagai representasi (1) Orange: memiliki arti sosial tinggi, (2) Hijau: melambangkan pertumbuhan, menggambarkan PETA yang akan terus tumbuh dan berkembang, (3) Biru: melambangkan profesionalisme dan integritas, melambangkan PETA yang bekerja secara professional.

 

Konsep Dasar: 

3 orang yang sedang saling tos, sebagai simbol teamwork dan semangat persatuan, menggambarkan kerjasama semua anggota PETA untuk terus memotivasi pasien TB yang masih berobat. Serta pantang menyerah apapun tantangan yang dihadapi dan bekerjasama menyelesaikannya. Logo ini juga atas dasar kerja keras terbentuknya PETA yang dimulai dari nol dan dibentuk bersama-sama. Juga memiliki tulisan tersembunyi membentuk kata "PETA".


Tulisan PETA didasarkan atas singkatan Pejuang Tangguh yang dibuat dengan font yang dinamis. Warna abu-abu kelam digunakan agar meninggalkan kesan modern dan tidak kaku.



 

 

 

 

Selasa, 15 September 2015
Posted by Iko

[Press Release] Dibuka: Pendaftaran Pelatihan Pendidik Sebaya Pejuang Tangguh (PETA) Jakarta 2015




JAKARTA - Yayasan Pejuang Tangguh (PETA) Jakarta terbentuk dari mantan pasien TB MDR Rumah Sakit Persahabatan Jakarta dan orang-orang yang peduli pada TB MDR, kembali mengadakan pelatihan Pendidik Sebaya/ Peer Educator (PE) yang akan segera dilaksanakan dalam waktu dekat. Pelatihan ini merupakan pelatihan angkatan ke-3, pelatihan ini bertujuan untuk mengasilkan pendidik sebaya generasi selanjutnya yang nantinya diharapkan bisa ikut andil dalam organisasi Pejuang Tangguh (PETA) serta membantu memberi edukasi dan motivasi kepada para pasien TB yang masih berobat terutama pasien MDR.
Pendaftaran sudah mulai dibuka saat press release ini disebarkan. Bagi kamu yang punya semangat yang sama untuk membantu para pasien TB yang masih berjuang di luar sana, segera daftarkan diri kamu. Pendaftaran bisa langsung ke kantor PETA di alamat:

Jl. Rawamangun Muka selatan no 27 Jakarta Timur (Dekat RS Persahabatan)

Bagi yang berminat untuk bergabung harus bersedia mengikuti syarat-syarat sebagai berikut:

1. Usia maksimal 40 tahun.
2. Pasien yang sudah dinyatakan konversi  pasien yang sudah dinyatakan sembuh.
3. Bersedia mengikuti pelatihan Peer Educator (PE) untuk pasien TB MDR selama 2 (dua) hari penuh.
4. Berkomitmen untuk melakukan edukasi dan motivasi pasien TB MDR sesudah pelatihan.
5. Bersedia melakukan kegiatan dukungan bagi upaya penanggulangan TB MDR bersama Yayasan PETA.
6. Mengisi form kesediaan mengikuti pelatihan PE di kantor peta yang alamatnya sudah dicantumkan diatas.

Untuk waktu dan tempat akan diinformasikan secepatnya.
Rabu, 05 Agustus 2015
Posted by Iko

TB Fact: Kumpulan Fakta Seputar TBC




   TB Fact adalah kumpulan fakta-fakta menarik seputar TBC yang akan kami hadirkan setiap sabtu tiap minggunya, yang dihadirkan dalam sebuah Fagam (Fakta Gambar). TB Fact akan hadir tiap minggunya dengan memberkan fakta-fakta TBC. Diharapkan kedepannya TB Fact akan dapat memberikan pengetahuan seputar TBC yang dikemas dalam sebuah gambar. TB Fact akan diupdate di setiap akun Pejuang Tangguh PETA.

Facebook: fb.com/pejuang.tangguh.tb
Fanpage  : fb.com/pejuang.tangguh.mdr
g+           : pejuang tangguh
Selasa, 04 Agustus 2015
Posted by Iko

Pasien Pertama TB MDR Yang Sembuh Di Indonesia

Pasien Pertama TB MDR Yang Sembuh Di Indonesia

Senin, 14 Oktober 2013
Posted by Iko

TB MDR Dapat Di Sembuhkan

Berobat Gratis, Pasien TB Bisa Sembuh Asal Patuh
Pasien Tuberkulosis (TB) tidak perlu cemas karena penyakitnya dapat disembuhkan. Masyarakat diharapkan dapat segera memeriksakan diri ke Puskesmas atau rumah sakit. Untuk diagnosa awal pengobatan diberikan gratis, dan bagi pasien TB yang masuk dalam program semua pengobatan ditanggung pemerintah.
Kepatuhan menjalani pengobatan secara teratur selama enam bulan dan rutin meminum obat justru menjadi kunci keberhasilan penyembuhan pasien TB. Karena jika hal tersebut tidak dilakukan, maka penyakit TB ini akan menjadi Tuberkulosis Multi Drug Resistant (TB-MDR) yang kebal obat.
Demikian penjelasan Ketua Pokja Directly Observed Treatment, Short-course (DOTS) dan TB-MDR RSUP Persahabatan, Dr dr. Erlina Burhan, Msc, Sp.P (K) dalam kegiatan temu media mengenai TB dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) di RSUP Persahabatan, Jakarta (23/11).
Penyakit Tuberkolosis (TB) merupakan penyakit menular, disebabkan oleh masuknya kuman Mycobacterium Tb ke dalam tubuh dan menyerang paru-paru manusia. Ada beberapa faktor risiko dari penyakit ini, yaitu kebiasaan merokok, pencemaran udara atau polusi dan juga tertular oleh suspek TB lainnya.
“Gejala dari penyakit ini antara lain batuk berdahak yang berkepanjangan bahkan hingga mengeluarkan darah, berat badan yang menurun drastis, demam, serta sakit pada bagian dada”, ujar dr. Erlina.
Saat ini Indonesia berada di peringkat 4 dunia untuk kasus penyakit TB setelah India, China dan Afrika Selatan. Menurut data RS Persahabatan, sedikitnya tercatat 1500 pasien TB per tahun. Sebanyak 10% pasien TB di RSUP Persahabatan adalah pasien rujukan. Adapun jumlah pasien TB-MDR yang menjalani pengobatan di RSUP Persahabatan saat ini berjumlah sekitar 480 pasien, dari jumlah tersebut 338 pasien masih menjalani pengobatan dan sisanya menolak diobati, dan meninggal dunia sebelum atau sesudah pengobatan.
“Sebagian karena menolak diobati, ada pula yang karena bekerja sehingga tidak bisa datang setiap hari”, kata dr. Erlina.
Pasien harus datang setiap hari untuk menjalani pengobatan dan menerima suntikan selama enam bulan, agar sembuh dari penyakit TB. Pasien yang menolak pengobatan akan menjadi sumber penularan bagi orang lain, bahkan bisa meninggal.
Menurut dr. Erlina, pasien suspek TB dinyatakan sembuh apabila mengikuti setiap proses pengobatan selama 6 bulan tanpa putus. Namun sayangnya, tidak sedikit pasien suspek TB yang tidak mengikuti proses pengobatan ini secara total. Banyak pasien yang berhenti melakukan pengobatan ketika mereka merasa tubuh mereka sudah lebih baik dari sebelumnya, berat badan mereka naik dan sebagainya, sebelum masa pengobatan 6 bulan berakhir. Padahal, kelalaian pasien suspek TB ini menyebabkan kuman Mycrobacterium Tb yang ada di dalam tubuh mereka menjadi kebal terhadap obat atau Multi Drug Resistance (MDR).
“Hal ini terjadi karena kuman Mycobacterium Tb tidak lagi mempan terhadap obat Rifampisin dan Isoniazid, dua obat penting dalam pengobatan TB”, terang dr. Erlina.
“Bila sudah begini, harus dilakukan pengobatan yang tingkatannya lebih tinggi lagi, dengan obat yang lebih banyak, waktu penyembuhan yang lebih panjang dan juga efek samping yang lebih kuat. Waktu penyembuhan untuk TB MDR ini adalah 2 tahun,” jelas dr. Erlina.

Ditambahkan bahwa selama 2 tahun ini pasien suspek TB MDR harus check up dan minum obat setiap hari kecuali hari Sabtu dan Minggu. Di RS Persahabatan disediakan poliklinik khusus untuk pasien TB MDR selama 24 jam. Di sini pasien dapat datang kapanpun untuk melakukan pengobatan.


Posted by Iko

Apa Itu TB MDR..?

Mekanisme dan Diagnosis Multidrug Resistant Tuberculosis (MDR Tb)
Arif Riswahyudi Hanafi, Prasenohadi
Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, RS Persahabatan, Jakarta

Pendahuluan
Tuberkulosis (Tb) merupakan penyebab terbesar penyakit dan kematian di dunia khususnya di Asia dan Afrika dan sejak tahun 2005 terdapat peningkatan yang disebabkan oleh pertumbuhan populasi di India, Cina, Indonesia, Afrika Selatan dan Nigeria. Menurut WHO prevalens kasus TB tahun 2006 ada 14,4 juta kasus dan multidrug resistant Tb (MDR Tb) ada 0,5 juta kasus dengan Tb kasus baru MDR 23.353 kasus. Jumlah total kasus Tb baru MDR yang diobati tahun 2007 dan 2008 sekitar 50.000 kasus. Prevalens Tb di Indonesia tahun 2006 adalah 253/100.000 penduduk angka kematian 38/100.000 penduduk. Tb kasus baru didapatkan MDR Tb 2% dan Tb kasus yang telah diobati didapatkan MDR Tb 19%.

Timbulnya resistensi obat dalam terapi Tb khususnya MDR Tb merupakan masalah besar kesehatan masyarakat di berbagai negara dan fenomena MDR menjadi salah satu batu sandungan program pengendalian Tb. Pengobatan pasien MDR Tb lebih sulit, mahal, banyak efek samping dan angka kesembuhannya relatif rendah. Penyebaran resistensi obat di berbagai negara tidak diketahui dan tatalaksana pasien MDR Tb masih tidak adekuat.

Mekanisme
Multidrug resistant tuberculosis (MDR Tb) adalah Tb yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis (M. Tb) resisten in vitro terhadap isoniazid (H) dan rifampisin (R) dengan atau tanpa resisten obat lainnya. Terdapat 2 jenis kasus resistensi obat yaitu kasus baru dan kasus telah diobati sebelumnya. Kasus baru resisten obat Tb yaitu terdapatnya galur M. Tb resisten pada pasien baru didiagnosis Tb dan sebelumnya tidak pernah diobati obat antituberkulosis (OAT) atau durasi terapi kurang 1 bulan. Pasien ini terinfeksi galur M. Tb yang telah resisten obat disebut dengan resistensi primer. Kasus resisten OAT yang telah diobati sebelumnya yaitu terdapatnya galur M. Tb resisten pada pasien selama mendapatkan terapi Tb sedikitnya 1 bulan. Kasus ini awalnya terinfeksi galur M Tb yang masih sensitif obat tetapi selama perjalanan terapi timbul resistensi obat atau disebut dengan resistensi sekunder (acquired).
Secara mikrobiologi resistensi disebabkan oleh mutasi genetik dan hal ini membuat obat tidak efektif melawan basil mutan. Mutasi terjadi spontan dan berdiri sendiri menghasilkan resistensi OAT. Sewaktu terapi OAT diberikan galur M. Tb wild type tidak terpajan. Diantara populasi M. Tb wild type ditemukan sebagian kecil mutasi resisten OAT. Resisten lebih 1 OAT jarang disebabkan genetik dan biasanya merupakan hasil penggunaan obat yang tidak adekuat. Sebelum penggunaan OAT sebaiknya dipastikan M. Tb sensitif terhadap OAT yang akan diberikan. Sewaktu penggunaan OAT sebelumnya individu telah terinfeksi dalam jumlah besar populasi M. Tb berisi organisms resisten obat.
Populasi galur M. Tb resisten mutan dalam jumlah kecil dapat dengan mudah diobati. Terapi Tb yang tidak adekuat menyebabkan proliferasi dan meningkatkan populasi galur resisten obat. Kemoterapi jangka pendek pasien resistensi obat menyebabkan galur lebih resisten terhadap obat yang digunakan atau sebagai efek penguat resistensi. Penularan galur resisten obat pada populasi juga merupakan sumber kasus resistensi obat baru. Meningkatnya koinfeksi Tb HIV menyebabkan progresi awal infeksi MDR Tb menjadi penyakit dan peningkatan penularan MDR Tb.
Banyak faktor penyebab MDR Tb. Beberapa analisis difokuskan pada ketidakpatuhan pasien. Ketidakpatuhan lebih berhubungan dengan hambatan pengobatan seperti kurangnya pelayanan diagnostik, obat, transportasi, logistik dan biaya pengendalian program Tb. Survei global resistensi OAT mendapatkan hubungan antara terjadinya MDR Tb dengan kegagalan program Tb nasional yang sesuai petunjuk program Tb WHO. Terdapatnya MDR Tb dalam suatu komuniti akan menyebar. Kasus tidak diobati dapat menginfeksi lebih selusin penduduk setiap tahunnya dan akan terjadi epidemic khususnya di dalam suatu institusi tertutup padat seperti penjara, barak militer dan rumah sakit. Penting sekali ditekankan bahwa MDR Tb merupakan ancaman baru dan hal ini merupakan manmade phenomenon.
Pengendalian sistematik dan efektif pengobatan Tb yang sensitive melalui DOTS merupakan senjata terbaik untuk melawan berkembangnya resistensi obat. Terdapat 5 sumber utama resisten obat Tb menurut kontribusi Spigots, yaitu :
1. Pengobatan tidak lengkap dan adekuat menyebabkan mutasi M. Tb resistensi
2. Lamanya pasien menderita infeksi disebabkan oleh keterlambatan diagnosis MDR Tb dan hilangnya efektiviti terapi sehingga terjadi penularan galur resisten obat terhadap kontak yang masih sensitif.
3. Pasien resisten obat Tb dengan kemoterapi jangka pendek memiliki angka kesembuhan kecil dan hilangnya efek terapi epidemiologi penularan.
4. Pasien resisten obat Tb dengan kemoterapi jangka pendek akan mendapatkan resistensi lanjut disebabkan ketidak hati—hatian pemberian monoterapi (efek penguat).
5. Koinfeksi HIV dapat memperpendek periode infeksi menjadi penyakit Tb dan penyebab pendeknya masa infeksi.

Diagnosis
Langkah awal mendiagnosis resisten obat Tb adalah mengenal pasien dalam risiko dan mempercepat dilakukannya diagnosis laboratorium. Deteksi awal MDR Tb dan memulai sejak awal terapi merupakan faktor penting untuk mencapai keberhasilan terapi. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi sputum BTA, uji kultur M. Tb dan resistensi obat. Kemungkinan resistensi obat Tb secara simultan dipertimbangkan dengan pemeriksaan sputum BTA sewaktu menjalani paduan terapi awal. Kegagalan terapi dapat dipertimbangkan sebagai kemungkinan resisten obat Tb sampai ada hasil uji resistensi obat beberapa minggu kemudian yang menunjukkan terdapatnya paduan terapi yang tidak adekuat. Identifikasi cepat pasien resistensi obat Tb dilakukan terutama pasien memiliki risiko tinggi karena program pengendalian Tb lebih sering menggunakan paduan terapi empiris, minimalisasi penularan, efek samping OAT, memberikan terapi terbaik dan mencegah resistensi obat lanjut.
Prediksi seseorang dalam risiko untuk melakukan uji resistensi obat adalah langkah awal deteksi resistensi obat. Prediktor terpenting resistensi obat adalah riwayat terapi Tb sebelumnya, progresiviti klinis dan radiologi selama terapi Tb, berasal dari daerah insidens tinggi resisten obat dan terpajan individu infeksi resisten obat Tb. Setelah pasien dicurigai MDR Tb harus dilakukan pemeriksaan uji kultur M. Tb dan resistensi obat. Laboratorium harus mengikuti protokol jaminan kualiti dan memiliki akreditasi nasional / internasional. Khususnya 2 sampel dengan hasil yang berbeda dari laboratorium dengan tingkat yang berbeda direkomendasikan untuk diperiksakan pada laboratorium yang lebih balk. Penting sekali laboratorium menekankan pemeriksaan uji resistensi obat yang cepat, adekuat, valid dan mudah dicapai oleh pasien dan layanan kesehatan. Mewujudkan laboratorium seperti ini disuatu daerah merupakan tantangan untuk program pengendalian Tb.

Kesimpulan
Tuberkulosis sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan di dunia dan diperparah dengan timbulnya masalah baru berupa MDR Tb. Kebanyakan MDR Tb terjadi karena kekurang patuhan dalam pengobatan Tb.Resistensi yang terjadi dapat berupa resistensi primer dan resistensi sekunder. Deteksi awal MDR Tb dan memulai terapi sedini mungkin merupakan faktor penting untuk tercapainya keberhasilan terapi.

Daftar Pustaka
1. World Health Organization. Key point. WHO Report 2008 : Global Tuberculosis Control 2008 surveillance, planning, financing. Geneva, Switzerland: WHO;2008.p.3-7.
2. World Health Organization. Profiles of high-burden countries. Country profile Indonesia. WHO Report 2008 : Global Tuberculosis Control 2008 surveillance, planning, financing. Geneva, Switzerland: WHO-,2008.p. 113-8.
3. World Health Organization. Guidelines for the programmatic management of drug-resistant tuberculosis. Geneve, Switzerland: WHO;2006.p.1-8.
4. World Health Organization. Treatment of tuberculosis: guidelines for national programmes, 3rd ed. Geneva, Switzerland: WHO-2003.p.39-47.
5. Crofton SJ, Chaulet P, Maher D. Guidelines for the management of drug-resistant tuberculosis. Geneva, Switzerland: WHO;1996.p.5-9.
6. Francis J. Curry National Tuberculosis Center, San Francisco Departement of Public Health, University of California. Drug-Resistant Tuberculosis a Survival Guide for Clinicians. Loeffler AM, Daley CL, Flood JM editors. California San francisco: CDC-12004.p.1-14.
7. Iseman MD, Goble M. Multidrug-resistant tuberculosis. N Engl J Med. 1996;334-268-9.
8. Munsiff SS, Bassoff T, Nivin B, et al. Molecular epidemiology of multidrugresistant tuberculosis, New York City, 1995-1997. Emerg Infect Dis. 2002;8:12308.
9. The WHO/IUATLD Global Project on Anti-Tuberculosis Drug Resistance Surveillance. Anti-Tuberculosis Drug Resistance in the World. Report No. 3. Geneva, Switzerland: WHO-12004.p.7-36.
10. Partners In Health, Harvard Medical School, Bill & Melinda Gates Foundation. A DOTS-Plus Handbook Guide to the Community based Treatment of MDR TB. Boston, Massachusetts: PIH-12002.p.1-13.
11. Partners In Health, Harvard Medical School, Division of Social Medecine and Health Inequalities Brigham and Women’s Hospital. The PIH Guide to the Medical Management of Multidrug-Resistant Tuberculosis International Edition. Rich ML editor. Boston, Massachusetts: PIH;2003.p.1-19.
12. Parsons LM, Somoskovi A, Urbanczik R, Salfinger M. Laboratory diagnostic aspects of drug resistant tuberculosis. Front Biosci. 2004;9:2086-105.
13. Sarin R. MDR-TB – Interventional Strategy. Indian J Tuberc 2007;54:110-6
 
.
sumber
http://www.ppti.info/
Minggu, 13 Oktober 2013
Posted by Iko

Popular Post

Diberdayakan oleh Blogger.

Social Icons

About Me

Powered By Blogger

Translate

Pages

About

Featured Posts

Social Icons

- Copyright © Pejuang Tangguh TB RO -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -